Tidakkah kau membencinya ketika harus membuka sesuatu yang tidak ingin kau lihat, sehingga akhirnya kau membiarkan semua notifikasi bertumpuk, menggunung dan tidak akan kau buka sampai jangka waktu yang sangat lama? 'Ignorant' katanya, 'MIA' katanya, 'aloof' katanya.
Semuanya benar. Aku menghindar, berlari seperti pengecut ke dalam lingkaran kecil yang kubuat sendiri di depan bayangan layar gelap. Aku sendiri menjiwai peranku ini seperti aku hidup untuk dunia nyata yang sudah dirusak oleh pion-pion tak terduga di tengah pertandingan. Bukannya aku tidak percaya bahwa ini mudah ditebak, namun rasa terkejutnya lebih kuat daripada yang kuduga. Salahku membiarkan luka lama terbuka terlalu besar, menunggu angin dan asin laut tumpah tepat di titik kritis.
Berkecimpung dengan urusan yang (tidak) harus diselesaikan, aku tidak mengerti bagaimana orang bisa menyukainya. Berlarut-larut aku sudah menanti kepulangan diriku dari sekolah biadab. Melepaskan semua sandang yang terlekat dalam badanku, membersihkan kulitku dari kemunafikkan yang sulit sekali dilepas, menyimpan diriku ke dalam ruangan 12X4 di lantai dua. Sekalipun badan memaksaku untuk pulas di atas empuknya kapas, hatiku belum mengijinkan jika belum dilempar dengan kesenangan palsu atas nama internet.
Internet tidak menghubungkan orang, sekalipun menghubungkan hubungan yang dijalin adalah munafik seri kedua. Menitikberatkan diriku di lingkungan sosial dengan tulisan-tulisan yang tiap hari kupinjam pada salah satu fasilitas favorit sekolah, menjauhkan diri dari kutu-kutu banyak bicara saat jam pelepas penat. Karena jika mereka melihat mataku sibuk bergerak ke kanan ke kiri mengawasi barisan kalimat, engganlah mereka untuk membuka mulut dan memperpanjang waktu untuk menyia-nyiakan keberadaannya di dekatku.
Barisan-barisan itu, oh, betapa aku mencintainya. Selain membantuku kabur meninggalkan dunia, mereka tak sungkan memberiku segudang frasa seindah noda mawar di atas kertas daur ulang produk pabrikan. Tiap kali aku merasa diriku seperti cendekiawan yang menguasai otak satu kelas, aku tahan lidahku untuk tidak menjadi si Sok Tahu, berceramah tentang dunia yang tidak dipedulikan oleh anak-anak bertujuan bulat masuk universitas terkenal fokus menjadi anak manis yang dibanggakan saat arisan keluarga.
Bantuan demi bantuan kudapatkan dari maya dan selain my 𝖕𝖆𝖕𝖎, dan kanal-kanal YouTube, serta nada-nada v a p o r w a v e, aku mengizinkan para memes bodoh menginfeksi saluran pernafasan dan aliran nadiku. Kata franku, sebaiknya aku mengadakan janji dengan dokter dan terapis, mengobati rasa kesalku terhadap waktu dan bagaimana aku memperbaikinya bukan masalah yang harus kupikir setiap saat. Nyata sudah ketakutanku yang paling dalam, semuanya akan membaur dengan adegan-adegan acak dan aku harus mengurutkannya satu persatu. Berdamai dengan jiwa lain itu mudah namun jika kau yang mempunya masalah dengan jiwamu sendiri, banyak harga yang harus dipertimbangkan.
Kapan aku bisa terbebas dari belenggu bajingan ini. Menggangguku yang akan menghadapi rintangan serius untuk urusan nilai tertulis di ijazah akhir. Ketika dirimu hanya berlari memutar satu jalan yang sama berkali-kali kau akan merasa bosan, tapi tidak dengan jalanku karena jalan yang kulewati adalah sama namun dengan halusinasi berbeda dari kimiawi dopamine yang menghiasi.
Merangkai kalimat menjadi suatu frasa benar-benar adiktif. Seperti kau menghasilkan puisi bebas tanpa syarat tanpa kritikan dan ketika kau menekan keyboard itu secara ajaib yang di Atas membantumu menyukai hasil karyamu sendiri. Membuat dirimu menjadi panutan untuk dirimu sendiri, Bebaslah menertawakan kepolosan dan jijiknya laman ini tapi jangan sentuh diriku dengan kebahagiaan yang kalian nikmati di kala matahari membuat diriku mengurung di dalam kandang terkekang dengan wajah berseri.







