being mean pt.2

by - 7:13 AM



hanyalah bagian kedua dari tulisan kejujuran yang menyakitkan hati. Bahasa Indonesia lebih pantas untuk menusuk seseorang yang tugas Bahasa Inggrisnya harus diserahkan sepenuhnya pada temannya. Atau pembantunya?


bukankah semakin waktu berputar cepat semakin kita semua sadar bahwa,
semua orang itu 




bajingan?

bersiaplah, ini akan menjadi postingan yang sangat panjang. 
penulis adalah insan egois, menyendirikan dirinya dan situsnya menjadi diari egois yang penuh dengan parang terlukis.

mulai dari suatu halaman hidup yang merana aku merantau balik ke alam menengah pertama dimana janji suci dengan diri sendiri adalah tolong jangan berteman baik dengan apapun
dan sayangnya dengan hanya satu semester janji itu adalah bualan sampah.
sebagai manusia yang bernafas saat itu, aku tidak bisa menolak. 
menolak ajakan maut itu. 
padahal aku sudah tahu bahwa menjalin suatu hubungan itu merepotkan dan aku benci repot dan aku benci diriku yang tidak bisa berkata tidak.

merasa bukan teman. lebih seperti barang yang dimanfaatkan. kalau mama selalu melantunkan semua orang tidak sepenuhnya buruk, maka aku hanya mengiyakan karena benarlah kepercayaannya. aku belajar memaafkan pada tahun pertama. kemudian belajar memaafkan pada tahun kedua. setelah itu belajar melupakan pada tahun ketiga. tapi sayangnya yang di Atas merasa aku harus dipadukan lagi dengan pandangan mata itu, jadi kembalilah lagi aku belajar memaafkan. 

selanjutnya di alam menengah atas.
awan menjadi hujan deras adalah kesialan namun takdir aku sekelas dengan mata itu adalah malapetaka garis keras.
tahun keempat tanganku ditarik, dilempar, dicelupkan dalam belerang leleh, dan wajahku ditutup siulan gosip, telingaku meleleh bosan akan keburukkan semua orang (semua orang yang membencinya. ha, mungkin memang semua orang tidak menyukainya). dia tidak sadar betapa jahatnya dia melakukan semua itu. aku tidak mau bermain drama dengannya namun tangannya menggandeng kuat pergelangan kakiku. mulutku masih bisa mengelola serapan ajaran mama dan bapak jadi lolongan hatiku tidak pernah lolos menyakiti hatinya.

celotehan di publik. suatu kesalahan yang kulakukan akan diumbar besar, tidak sadar dia beteriak di tempat umum tepat pada wajah merahku. aku hanya mengiyakan. lubuk hatiku menghembuskan nafas bahwa gadis ini tidak berharga untuk dipikirkan. sudahi, sudahi, sudahi, sudahi, akhiri, akhiri, aku mau semuanya tamat.

bisa tidak ya?

karena tahun kelima aku belajar memaafkan. lagi.

tapi kali ini sedikit berkembang karena puji Tuhan aku dan mata sadis berpisah kelas.
selamat datang kebebasan sejati.
aku tidak ingin hubungan dekat. tapi sialnya aku hanyalah sebutir debu di dalam sekolah elit penuh ratu palsu dan raja pamer.

sosial seperti itu, orang dekat seperti itu. bertolak belakang dengan ajaran keluarga dan otakku sudah menyerah berproses sehingga aku memilih untuk perlahan-lahan tidak peduli.
menjadi jahat kadang adalah pilihan yang terbaik (bukan, jangan ditiru)
mulailah pikiran merendahkan orang lain, menyimpan dendam terhadap diri sendiri, menyukai kebanggaan di alam sendiri. titik kembali adalah dimana aku bertemu dengan papi yang sesungguhnya menyayangiku dengan tulus, mengembalikan diriku yang sudah ditanam dalam tanah kejahatan.

tapi aku bisa melindungi diriku dari gadis itu. jadi aku pikir aku berkembang.

tahun keenam adalah tornado besar. ruang amanku dihancurkan dengan insecurity and anxiety. ditabrak dengan ratu Palsu dan teman-teman gerejanya. mereka berdoa kekayaan, menyanyikan kecantikan dan memuji nama ketenaran. saat itu aku sungguh tidak kuat, badan rasanya lemas, hati berbobot seratus ton dengan label, "kamu adalah manusia sampah tidak layak di mata semua orang. tidak layak. tidak layak. tidak layak. tidak cantik."



ini masalah serius lho
aku mempunyai penyakit itu. memalukan dan aku tidak bangga. bagaimana bisa bangga jika cermin adalah hantu raksasa yang menjijikkan di mata seorang remaja? menyerah.

aku pikir aku bisa melampiaskan semuanya pada lingkaran dengan tiga jiwa terdekat namun.
oh tidak tidak tidak tidak. mereka tidak tahu, mereka tidak bersalah. aku dikecewakan oleh ekspetasi dan harapan. tidak ada yang tahu bahwa sejak itu aku mengubah janjiku menjadi mereka tidak ada di dalam hatimu.
tahu bahwa seterusnya aku menganggap mereka adalah kewajiban yang harus ditamatkan? seperti novel yang tidak kau sukai sama sekali tapi kau merasa bertanggung jawab untuk membaca sampai tamat? seperti itulah. baca saja untuk lebih extranya dalam dokumen di bagian drugs. perlu sepuluh halaman Word untuk memuaskan semua kejahatan.

hingga akhirnya aku meninggalkan seragam laknat itu.

nyatanya semua di lingkaran tidak suka gadis itu. jadi semua sepakat menyingkirkannya.
untuk pertama kalinya aku bisa mengutarakan semua perasaanku secara jujur dan lantang. mereka menerimanya. aku menerimanya.

yang kulakukan adalah hapus semua kontak gadis itu. cara paling jitu ketika ingin memutuskan ikatan.
Selamat tinggal selamat tinggal selamat tinggal

maaf mama.
maaf bapak.
bukan kalian yang mendidikku seperti ini. 
papi bahkan menilaiku bahwa aku terlalu kejam. 
diriku dan kejahatan di dalam nadiku mendidih hebat.
karena mereka berteriak bahwa kami sudah tidak saling membutuhkan.
rasanya tidak mungkin tapi aku akan berjuang untuk membuatnya menjadi memungkinkan.

saat gadis membaca ini dia akan berdoa agar
karma menyertaiku tapi.
bagaimana jika ini adalah
karmamu?

You May Also Like

0 comments