cursed jealousy

by - 6:34 AM

kenapa ya akhir-akhir ini rasanya sedih gitu?
merasa seperti individual yang ga berguna aja.

mungkin karena aku engga dapet komentar yang bagus saat peer teaching?
hahaha, padahal kan aku memang ga mau dan ga bakat jadi guru.
tapi gimana ya,
seperti sudah merencanakan sesuatu tapi rencananya ga berjalan sesuai yang diharapkan. mungkin aku terlalu memberi harapat yang terlalu tinggi. salahnya aku terlalu percaya diri dengan rencana itu. aku pikir rencana itu sudah bagus, sudah interactive, menyenangkan, dan mudah dilakukan. yang tidak aku perhatikan lebih dalam adalah indonesia masih negara yang jelek. tidak semua punya koneksi yang bagus, bahkan koneksiku sendiri masih sering tidak stabil. pada akhirnya dosen pembimbing bahkan tidak bisa masuk ke dalam ruangan virtual yang sudah disiapkan di website khusus. 

rasanya sakit jika kreatifitasku ditabrak dengan halangan seperti konektifitas yang ga rata. tapi itu yang akan terjadi di lapangan. kalau nearpod saja tidak bisa diakses, maka rencana mengajar dengan discord hanyalah omong kosong.

sudah cukup sedih dengan kenyatan itu, tentu saja rasa iri muncul. 
rasa iri terhadap teman-teman yang melaksanakan peer teaching dengan bagus, tidak neko-neko tapi hasilnya memuaskan. maksudnya mengajar saat pandemi adalah, asal materi tersampaikan dengan baik bukan? dan sayangnya aku setuju. asal materi tersampaikan, maka kegiatan belajar dan mengajar telah dilakukan dengan baik. aku saja yang suka bermain-main dengan teknologi dan sok-sok an menganggap google classroom, google form, dan screen sharing adalah media yang membosankan. Mungkin kekuranganku adalah tidak bisa memanfaatkan semua hal yang basic menjadi hal yang menyenangkan dan memuaskan jiwa abstrak ku,


****

rasa iri ini tidak berhenti sampai situ.
perasaan ini berlanjut sampai dengan kegiatan instagram-stalking yang diawali dengan panggilan suara dengan sahabat SMA. 
katanya teman-teman di SMA dan SMP sudah berubah, kebanyakan lebih 'jelek'. Not my word, she just really likes to comment on people appearances and I do not condone what she does but... yeah its her thing. Ketika aku scrolling akun instagram mereka, yang membuatku termangu adalah betapa kerennya achievements mereka. Mereka telah bertumbuh menjadi orang yang, let's say, berprestasi. Dan hal itu membuat diriku membenci diriku sendiri. 

Setelah kupikir lagi, aku bukannya ingin mendapatkan banyak penghargaan periss seperti mereka, menang kejuaraan, menjadi delegasi, pergi ke luar negeri, dan lainnya. Its good for them, tapi mungkin memang hal-hal tersebut bukanlah jalanku. Aku memang tidak memiliki jiwa kompetisi yang di atas rata-rata, makan mengikuti lomba adalah hal yang kurasa tidak berada di dalam hatiku. Aku tidak suka sibuk di dalam sebuah kompetisi. Kalau sibuk untuk mempersiapkan acara, aku masih bisa menyukainya. Bekerja dalam projek juga masih bisa kujalani dengan bahagia. Kompetisi bukanlah bidangku. 

Tapi, tetap saja. Aku merasa hidupku tidak memiliki sesuatu yang bisa aku banggakan ke dunia. Aku merasa aku tidak bisa menyumbang apapun ke dunia. Hmmm, menyumbang ke dunia atau menyumbang isi instagram page-ku? Susah juga jadi orang meta. Apakah aku iri karena aku benar-benar ingin memiliki sesuatu yang bisa diapresiasi oleh dunia atau aku hanya iri karena isi  instagramku adalah isi instagram orang 'biasa'?

Aku tidak ingin menjadi guru, aku ingin bekerja di bidang grafis desain. Tapi aku bisa apa? pengetahuanku dan skill ku di bawah rata-rata. (aku paham aku harus memperbanyak portofolio, hanya saja saat ini sangat susah karena jika aku melakukan freelance, sainganku di bidang desain banyak sekali. dan hal itu menjengkelkan)

Yang jelas aku harus tahu bahwa perasaan ini normal dan akan hilang. 

****

rasa iri ini didampingi oleh rasa sedih mengetahui bahwa aku akan selama-lamanya menjadi perempuan yang telah menyelingkuhi pacarnya. aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk itu, karena itulah kenyataannya. sakit ketika orang mengetahuimu sebagai orang yang jahat. tapi tentu saja lebih sakit dia yang telah kusakiti, kan? mungkin ini adalah karma yang sebenarnya. rasa sakit yang tidak akan bisa ditinggalkan. hidup dengan perasaan ini cukup seru, walau menyakitkan. menjadi orang jahat yang kemudian tersakiti karena ketahuan berbuat 'jahat' dan sekarang dunia membencinya. badut sekali. 

hmmm, badut yang sedih. badut yang selalu iri hati dan dengki. badut yang tidak berguna. 

You May Also Like

0 comments