𝐫𝐞𝐧𝐜𝐚𝐧𝐚 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐠𝐚𝐠𝐚𝐥
Pretty words.
Hanya itu yang bisa aku keluarkan.
Rasanya aku meminjam seni bahasa untuk meloloskan perbuatan-perbuatanku yang tidak menyenangkan.
Sangat manipulatif.
Semuanya dirancang supaya kejahatanku tidak terlihat terlalu buruk.
Aku suka dipuji dan mengklaim diri sendiri bahwa aku pintar memilih diksi, menggunakan metafora, berbahasa inggris (although, not really), dan keahlian skill berbahasa lainnya. Tapi sekarang aku merasa ini adalah sebuah alasan murahan yang sebenarnya membantuku untuk meromantisasi perbuatan jahat ataupun kejelekkan diriku sendiri.
Aku pikir aku bisa merangkai kalimat-kalimat itu menjadi pesan yang masuk akal untuk membawa orang-orang yang membaca kisahku berada di pihakku, saat aku secara terang-terangan menyakiti orang lain.
Aku pikir ini adalah 'karya'ku, 'seni'ku, 'cara'ku berekspresi bebas untuk mencari pelukkan dan persetujuan teman dan juga orang lain untuk ikut membenarkan kesahalanku.
Pertama kalinya dalam hidupku aku merasa menulis membuatku sangat jahat.
I have been using words and pretty sentences to justify my wrong deeds. I have so many vocabularies in my pocket specifically crafted to excuse my shitty behaviors.
Lama-lama ini menjadi tidak menyenangkan.
'
Jadi biarlah aku menjelaskannya secara biasa saja kali ini. Secara gamblang dan apa adanya karena aku sudah muak dengan diri sendiri.
Sangat manipulatif.
Semuanya dirancang supaya kejahatanku tidak terlihat terlalu buruk.
Aku suka dipuji dan mengklaim diri sendiri bahwa aku pintar memilih diksi, menggunakan metafora, berbahasa inggris (although, not really), dan keahlian skill berbahasa lainnya. Tapi sekarang aku merasa ini adalah sebuah alasan murahan yang sebenarnya membantuku untuk meromantisasi perbuatan jahat ataupun kejelekkan diriku sendiri.
Aku pikir aku bisa merangkai kalimat-kalimat itu menjadi pesan yang masuk akal untuk membawa orang-orang yang membaca kisahku berada di pihakku, saat aku secara terang-terangan menyakiti orang lain.
Aku pikir ini adalah 'karya'ku, 'seni'ku, 'cara'ku berekspresi bebas untuk mencari pelukkan dan persetujuan teman dan juga orang lain untuk ikut membenarkan kesahalanku.
Pertama kalinya dalam hidupku aku merasa menulis membuatku sangat jahat.
I have been using words and pretty sentences to justify my wrong deeds. I have so many vocabularies in my pocket specifically crafted to excuse my shitty behaviors.
Lama-lama ini menjadi tidak menyenangkan.
'
Jadi biarlah aku menjelaskannya secara biasa saja kali ini. Secara gamblang dan apa adanya karena aku sudah muak dengan diri sendiri.
****
curiosity kills a cat
I said
cats have 9 lives, so if it kills them to be curious, at least they can be curious for 9 times, right?
cats have 9 lives, so if it kills them to be curious, at least they can be curious for 9 times, right?
Kira-kira dari pertengahan bulan Maret sampai akhir Mei aku terbutakan dengan rasa cinta yang menggebu-gebu. 'Cinta' terasa seperti kata indah yang sesuai menggambarkan hatiku saat itu, namun sekarang perasaan itu lebih mencolok untuk dinamakan rasa keegoisan.
Those 'I love yous' were just daily pills that I need to take so I will eventually feel like I have reached that certain level of affection.
Tapi, ini seorang Gemma yang berbicara. Dia tidak tahu apa itu cinta, dia tidak bisa membedakannya dengan rasa kagum.
'The Dream Prince', she said. Naif sekali untukku yang menganggap semua mimpi harus direalisasikan, tidak peduli dengan bagaimana besarnya mimpi itu bisa berubah menjadi mimpi menakutkan yang membuatku tidak ingin tidur lagi selamanya.
Aku jatuh cinta dengan caranya tertawa, jatuh cinta dengan jalan pikirannya yang sama, jatuh cinta dengan cara dia berbicara saat aku pertama kali berjumpa.
Jatuh cinta atau hanya bosan?
Satu hal pertama yang aku pelajari dari kejadian ini,
kamu bisa jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang berbeda,
tapi kamu harus setia dengan pilihanmu, dimana kamu telah menaruh kepercayaan dan komitmen dengan orang itu. Begitu juga sebaliknya.
Kuakui saat itu aku jatuh cinta,
dengan imajinasi semu milikku dan jalan cerita yang terdengar seru jika diseriuskan.
Aku memilih diriku sendiri yang saat itu menganggap pangeran mimpi mudah diraih, bisa diraih, dan akan diraih.
Aku menganggap diriku yang hebat ini bisa mengeluarkan seorang yang aku pikir satu level denganku dari jalan hidupnya yang terdengar.... tidak baik-baik saja.
Whoa, so frickin' mean.
Tapi itulah yang aku rasakan. Yang aku rasakan ketika dia tanpa sadar memberiku confidence boost dan menceritakan kisahnya. I feel good about myself with him, karena dari matanya dia terlihat menghormati/terkagum dengan diriku yang... apa adanya ini. Dan aku suka perasaan itu, perasaan ditelanjangi oleh matanya, sekaligus dipeluk dengan pujian dan rasa kagum yang tidak berhenti. Perasaan ini adalah toxic positivity, dimana aku bisa merasa sangat dominan karena aku tahu aku bisa memposisikan diriku di atasnya. Dia satu level di bawahku, dan aku bisa mengangkatnya.
Jujur aku tidak tahu pasti apa maksud 'level' disini dan kenapa aku menggunakannya. Mungkin seperti, level in general. Level kepintaran, lifestyle, humour, etc.
Jahat sekali bukan?
Karena ketika dia mengaku merasa rendah diri bersanding denganku, aku merasa seperti ditampar secara lembut. Ditampar dengan kenyataan bahwa aku suka perasaan itu. Aku suka ketika ada orang (terutama laki-laki) yang merasa dirinya lebih rendah daripada aku. Sangat kekanak-kanakan.
Tentu saja aku tidak secara gamblang menunjukkan sisi sombongku, hanya kata-kata penghibur seperti; "apa sih? kamu tidak lebih rendah dariku. aku hanyalah manusia biasa, sama sepertimu."
Namun dalam hati aku tersenyum "tentu saja aku berada di level lebih tinggi daripada kamu."
Dia adalah mediaku untuk selalu pamer 24/7. Menyombongkan cara berpikirku, kepintaranku, dan sexual appetite ku. Aku suka melihat dirinya yang tidak berpengalaman terpukau dengan gerak-gerikku. Seperti memoles domba inosen yang tidak pernah keluar dari kandangnya. Tidak pernah berpetualang, hanya terperangkap di kandang beratapnya yang gelap dan sempit.
Yeah, it felt like I groomed him.
Aku menyembunyikan semua ini dalam-dalam di bawah kesadaranku, Aku hanya cukup mengulangi kata-kata sihir 'I love him, I love him, I wanna spend the rest of my life with him.' Dan perasaan yang artificial bisa terbentuk, sehingga aku bisa meletakkan harapanku bahwa aku akan benar-benar mencintainya sebagai manusia di kemudian hari.
Aku tidak tahu kelinci percobaanku ini ternyata bisa berubah menjadi sesuatu yang memuakkan bagiku.
Tidak tahu sebelum dia mulai mengoceh tentang masalalunya dan kesedihannya. Aku terkejut dia mengalami kesulitan untuk move on. Seperti yang sudah pernah aku tulis, aku tidak suka mengejar seseorang yang masa lalunya belum ditutup. Dan ternyata aku juga tidak siap untuk merubah cara berpikir itu.
Sejak awal aku bertemu dengannya dan membuka telinga untuk mendengar kisahnya, ada kesan dimana dia tidak mungkin kembali untuk masa lalunya. Benar, dia mengatakan bahwa dia butuh waktu untuk healing. I thought it was healing from the whole definition of having a relationship, not healing from his past, or his ex.
Ketika dia menceritakan betapa kehilangannya dia, tentu saja aku merasa sakit hati. Sakit hati karena,
hey,
apakah aku tidak cukup?
apakah aku ternyata tidak begitu hebat seperti yang aku ekspetasikan?
aku merasa aku lebih hebat daripada masa lalumu, tapi kenapa kamu tidak menoleh?
kenapa kamu masih sakit hati? bukankah sudah ada aku disini?
aku melepaskan my first ever prince that i genuinely loved and care about hanya untuk mendengarkan masa lalumu? untuk melihatmu gelisah; tidak tahu ingin kau bagaimanakan perasaan rindumu kepadanya?
kalau dia begitu hebat, begitu besar rasa sayangmu kepadanya, lalu mengapa kamu menunjukkan rasa benci terhadapnya di awal?
Jawabannya jelas.
Aku lah penyebabnya. Aku pikir itu adalah false advertisement, tapi aku juga berada di posisi dimana aku tidak berpikir dua kali untuk mengambilmu sebagai bahan percobaanku. Sebagai project milikku dimana aku bisa mendapat validasi dari orang-orang yang seharusnya bisa melihat kita berdua berjalan, dan mengatakan,
Aku menyukaimu untuk dipuji.
Kesedihanmu adalah hakmu,
caramu mengeluarkan kesedihanmu, adalah pilihanmu.
dan aku hanya memegang keputusanku entah untuk berani bertahan atau menghentikan project-ku ini.
Dan aku memilih untuk berhenti.
Menyudahi mengejar pujian itu, menyudahi berpura-pura berjuang untuk mendapatkan seseorang yang bahkan tidak berada di league-ku. (Ya, aku terang-terangan merendahkan orang lain saat ini.)
Seperti membuang mainan lama yang sudah terlihat usang, terlihat membosankan dan tidak menarik untuk diundang di pesta teh sore bersama barbie dan ken ku. Sekarang aku benar-benar tersadar bahwa aku sama sekali tidak dibentuk untuk berjuang dan bertahan. Ketika sesuatu terlihat hopeless dan membosankan, aku cepat untuk melepaskan.
Postingan di bulan Maret aku mengatakan bahwa aku ingin merubah keegoisanku dengan pangeran ini.
Mulutku saat itu mengatakan bahwa dia adalah orang yang tepat.
Sekarang aku mendeklarasikan kebalikannya. Dia bukanlah orang yang tepat.
Indecisive much? This time, for sure.
Terimakasih atas dopamine yang diberikan. Terimakasih atas rasa senang nostalgia yang menyenangkan. Terimakasih telah menemaniku mundur mengenang masa-masa wibu ku. Terimakasih atas tamparan dan hinaan yang dilontarkan, I deserve all of them. Terimakasih atas waktu dan kenangan di kamarmu yang sedang kuusahakan untuk menghapusnya dari ingatanku (because, honestly...it was horrible. sorry to say it).
Aku meminum ludahku sendiri, secara berani di depan semua orang.
Tapi kurasa ini bukan masalah menjilat ludah atau perasaan malu untuk mengakui.
Ini perasaan sakit hati ketika aku mengetahui aku telah menyia-nyiakan seseorang yang sudah berjuang mati-matian untukku.
Dia berubah, untukku. Tumbuh, untuk dirinya yang lebih baik. Dan masih saja aku menutup mataku dengan egoku.
Sekarang penyesalan lah yang tersisa di hatiku. Yang aku lakukan terhadapnya tentu bukan hal ringan yang bisa diperbaiki dengan sentuhan bibir dan hubungan ranjang. Ini sudah menyentuh rasa kepercayaannya. Aku adalah tokoh utama dari luka batinnya yang berefek samping keraguan dan trust issue-nya.
Aku kembali dan tidak mau melepaskannya lagi.
Aku membuang jauh-jauh pikiran dan prediksi egois yang berteriak kencang bahwa hubungan kami tidak akan selesai sampai akhir hidup kami.
Karena hal itu mengganggu kebahagiaanku dan ketenanganku. Jadi sebaiknya berusaha sekuat tenaga untuk menarik, berusaha menerjang segala cobaan daripada berpikir terlalu realistis dan menyiksa batin terlalu dini.
Aku senang untuk kembali.
Dan aku sangat antusias untuk belajar dan mengubah diriku menjadi orang yang tidak jahat, bersamamu.
Those 'I love yous' were just daily pills that I need to take so I will eventually feel like I have reached that certain level of affection.
Tapi, ini seorang Gemma yang berbicara. Dia tidak tahu apa itu cinta, dia tidak bisa membedakannya dengan rasa kagum.
'The Dream Prince', she said. Naif sekali untukku yang menganggap semua mimpi harus direalisasikan, tidak peduli dengan bagaimana besarnya mimpi itu bisa berubah menjadi mimpi menakutkan yang membuatku tidak ingin tidur lagi selamanya.
Aku jatuh cinta dengan caranya tertawa, jatuh cinta dengan jalan pikirannya yang sama, jatuh cinta dengan cara dia berbicara saat aku pertama kali berjumpa.
Jatuh cinta atau hanya bosan?
Satu hal pertama yang aku pelajari dari kejadian ini,
kamu bisa jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang berbeda,
tapi kamu harus setia dengan pilihanmu, dimana kamu telah menaruh kepercayaan dan komitmen dengan orang itu. Begitu juga sebaliknya.
Kuakui saat itu aku jatuh cinta,
dengan imajinasi semu milikku dan jalan cerita yang terdengar seru jika diseriuskan.
Aku memilih diriku sendiri yang saat itu menganggap pangeran mimpi mudah diraih, bisa diraih, dan akan diraih.
Aku menganggap diriku yang hebat ini bisa mengeluarkan seorang yang aku pikir satu level denganku dari jalan hidupnya yang terdengar.... tidak baik-baik saja.
Whoa, so frickin' mean.
Tapi itulah yang aku rasakan. Yang aku rasakan ketika dia tanpa sadar memberiku confidence boost dan menceritakan kisahnya. I feel good about myself with him, karena dari matanya dia terlihat menghormati/terkagum dengan diriku yang... apa adanya ini. Dan aku suka perasaan itu, perasaan ditelanjangi oleh matanya, sekaligus dipeluk dengan pujian dan rasa kagum yang tidak berhenti. Perasaan ini adalah toxic positivity, dimana aku bisa merasa sangat dominan karena aku tahu aku bisa memposisikan diriku di atasnya. Dia satu level di bawahku, dan aku bisa mengangkatnya.
Jujur aku tidak tahu pasti apa maksud 'level' disini dan kenapa aku menggunakannya. Mungkin seperti, level in general. Level kepintaran, lifestyle, humour, etc.
Jahat sekali bukan?
Karena ketika dia mengaku merasa rendah diri bersanding denganku, aku merasa seperti ditampar secara lembut. Ditampar dengan kenyataan bahwa aku suka perasaan itu. Aku suka ketika ada orang (terutama laki-laki) yang merasa dirinya lebih rendah daripada aku. Sangat kekanak-kanakan.
Tentu saja aku tidak secara gamblang menunjukkan sisi sombongku, hanya kata-kata penghibur seperti; "apa sih? kamu tidak lebih rendah dariku. aku hanyalah manusia biasa, sama sepertimu."
Namun dalam hati aku tersenyum "tentu saja aku berada di level lebih tinggi daripada kamu."
Dia adalah mediaku untuk selalu pamer 24/7. Menyombongkan cara berpikirku, kepintaranku, dan sexual appetite ku. Aku suka melihat dirinya yang tidak berpengalaman terpukau dengan gerak-gerikku. Seperti memoles domba inosen yang tidak pernah keluar dari kandangnya. Tidak pernah berpetualang, hanya terperangkap di kandang beratapnya yang gelap dan sempit.
Yeah, it felt like I groomed him.
Aku menyembunyikan semua ini dalam-dalam di bawah kesadaranku, Aku hanya cukup mengulangi kata-kata sihir 'I love him, I love him, I wanna spend the rest of my life with him.' Dan perasaan yang artificial bisa terbentuk, sehingga aku bisa meletakkan harapanku bahwa aku akan benar-benar mencintainya sebagai manusia di kemudian hari.
Aku tidak tahu kelinci percobaanku ini ternyata bisa berubah menjadi sesuatu yang memuakkan bagiku.
Tidak tahu sebelum dia mulai mengoceh tentang masalalunya dan kesedihannya. Aku terkejut dia mengalami kesulitan untuk move on. Seperti yang sudah pernah aku tulis, aku tidak suka mengejar seseorang yang masa lalunya belum ditutup. Dan ternyata aku juga tidak siap untuk merubah cara berpikir itu.
Sejak awal aku bertemu dengannya dan membuka telinga untuk mendengar kisahnya, ada kesan dimana dia tidak mungkin kembali untuk masa lalunya. Benar, dia mengatakan bahwa dia butuh waktu untuk healing. I thought it was healing from the whole definition of having a relationship, not healing from his past, or his ex.
Ketika dia menceritakan betapa kehilangannya dia, tentu saja aku merasa sakit hati. Sakit hati karena,
hey,
apakah aku tidak cukup?
apakah aku ternyata tidak begitu hebat seperti yang aku ekspetasikan?
aku merasa aku lebih hebat daripada masa lalumu, tapi kenapa kamu tidak menoleh?
kenapa kamu masih sakit hati? bukankah sudah ada aku disini?
aku melepaskan my first ever prince that i genuinely loved and care about hanya untuk mendengarkan masa lalumu? untuk melihatmu gelisah; tidak tahu ingin kau bagaimanakan perasaan rindumu kepadanya?
kalau dia begitu hebat, begitu besar rasa sayangmu kepadanya, lalu mengapa kamu menunjukkan rasa benci terhadapnya di awal?
Jawabannya jelas.
Aku lah penyebabnya. Aku pikir itu adalah false advertisement, tapi aku juga berada di posisi dimana aku tidak berpikir dua kali untuk mengambilmu sebagai bahan percobaanku. Sebagai project milikku dimana aku bisa mendapat validasi dari orang-orang yang seharusnya bisa melihat kita berdua berjalan, dan mengatakan,
"Hebat sekali kamu bisa mendapatkan hati Gemma."
"Kamu beruntung untuk bisa memulai hubungan dengan Gemma."
"Enak ya, bisa dapat seseorang seperti Gemma."
Aku menyukaimu untuk dipuji.
Ternyata, jiwa nymphetku belum benar-benar hilang.
Kesedihanmu adalah hakmu,
caramu mengeluarkan kesedihanmu, adalah pilihanmu.
dan aku hanya memegang keputusanku entah untuk berani bertahan atau menghentikan project-ku ini.
Dan aku memilih untuk berhenti.
Menyudahi mengejar pujian itu, menyudahi berpura-pura berjuang untuk mendapatkan seseorang yang bahkan tidak berada di league-ku. (Ya, aku terang-terangan merendahkan orang lain saat ini.)
Seperti membuang mainan lama yang sudah terlihat usang, terlihat membosankan dan tidak menarik untuk diundang di pesta teh sore bersama barbie dan ken ku. Sekarang aku benar-benar tersadar bahwa aku sama sekali tidak dibentuk untuk berjuang dan bertahan. Ketika sesuatu terlihat hopeless dan membosankan, aku cepat untuk melepaskan.
Postingan di bulan Maret aku mengatakan bahwa aku ingin merubah keegoisanku dengan pangeran ini.
Mulutku saat itu mengatakan bahwa dia adalah orang yang tepat.
Sekarang aku mendeklarasikan kebalikannya. Dia bukanlah orang yang tepat.
Indecisive much? This time, for sure.
Terimakasih atas dopamine yang diberikan. Terimakasih atas rasa senang nostalgia yang menyenangkan. Terimakasih telah menemaniku mundur mengenang masa-masa wibu ku. Terimakasih atas tamparan dan hinaan yang dilontarkan, I deserve all of them. Terimakasih atas waktu dan kenangan di kamarmu yang sedang kuusahakan untuk menghapusnya dari ingatanku (because, honestly...it was horrible. sorry to say it).
****
Saat ini, aku kembali memeluk pangeran yang tersesat.
Dan aku merasa aku tidak pernah seberuntung ini untuk mendapatkannya kembali.Aku meminum ludahku sendiri, secara berani di depan semua orang.
Tapi kurasa ini bukan masalah menjilat ludah atau perasaan malu untuk mengakui.
Ini perasaan sakit hati ketika aku mengetahui aku telah menyia-nyiakan seseorang yang sudah berjuang mati-matian untukku.
Dia berubah, untukku. Tumbuh, untuk dirinya yang lebih baik. Dan masih saja aku menutup mataku dengan egoku.
Sekarang penyesalan lah yang tersisa di hatiku. Yang aku lakukan terhadapnya tentu bukan hal ringan yang bisa diperbaiki dengan sentuhan bibir dan hubungan ranjang. Ini sudah menyentuh rasa kepercayaannya. Aku adalah tokoh utama dari luka batinnya yang berefek samping keraguan dan trust issue-nya.
Aku kembali dan tidak mau melepaskannya lagi.
Aku membuang jauh-jauh pikiran dan prediksi egois yang berteriak kencang bahwa hubungan kami tidak akan selesai sampai akhir hidup kami.
Karena hal itu mengganggu kebahagiaanku dan ketenanganku. Jadi sebaiknya berusaha sekuat tenaga untuk menarik, berusaha menerjang segala cobaan daripada berpikir terlalu realistis dan menyiksa batin terlalu dini.
Aku senang untuk kembali.
Dan aku sangat antusias untuk belajar dan mengubah diriku menjadi orang yang tidak jahat, bersamamu.
glad to be back!




0 comments